Catatan editorial: Cerita ini merupakan karya fiksi orisinal OMA55. Tokoh, tempat, dan kejadian di dalamnya tidak dimaksudkan sebagai laporan peristiwa nyata.
Ketika Arga menerima pekerjaan sebagai penjaga malam di Penginapan Puspa, pemiliknya hanya memberi dua aturan: jangan meninggalkan meja resepsionis setelah pukul dua belas dan jangan pernah menjawab ketukan dari kamar nomor tujuh. Masalahnya, pada denah bangunan itu tidak ada kamar nomor tujuh.
Malam Pertama di Penginapan Puspa
Penginapan Puspa berdiri di tepi jalan lama yang jarang dilewati kendaraan. Bangunannya hanya memiliki enam kamar. Tiga berada di lantai bawah dan tiga di lantai atas. Di ujung koridor atas terdapat dinding kusam dengan bekas kusen yang telah ditutup papan.
“Dulu gudang,” kata Pak Seno, pemilik penginapan. Ia menyerahkan kunci-kunci kuningan kepada Arga, lalu menunjuk sebuah lonceng kecil di meja. “Kalau ada tamu, lonceng ini berbunyi. Kalau bunyinya tiga kali setelah tengah malam, diam saja.”
Arga mengira itu hanya cara orang lama menguji pegawai baru. Pada malam pertama, tidak ada tamu. Televisi di ruang tunggu kehilangan sinyal menjelang pukul satu. Hujan turun tipis, cukup untuk menutupi suara dari jalan.
Tiga Ketukan dari Lantai Atas
Pukul 00.17, lonceng di meja berbunyi tiga kali. Tidak ada tangan yang menyentuhnya.
Ting. Ting. Ting.
Sesudah bunyi terakhir, terdengar ketukan dari lantai atas. Jaraknya teratur, seperti seseorang mengetuk pintu dengan satu ruas jari. Arga memeriksa buku tamu. Semua kamar kosong kecuali kamar tiga, ditempati seorang pengemudi yang sudah tidur sejak pukul sepuluh.
Ketukan itu kembali terdengar. Kali ini disusul suara perempuan yang sangat pelan.
“Mas, kuncinya tertinggal di luar.”
Arga mengingat aturan Pak Seno. Ia menaikkan volume televisi, tetapi layar justru berubah menjadi gambar koridor lantai atas. Kamera pengawas menampilkan enam pintu—dan satu pintu tambahan di ujung lorong. Pada pintu itu tergantung angka tujuh yang berayun perlahan.
Nama yang Muncul di Buku Tamu
Arga menunduk ketika mendengar halaman buku tamu bergerak sendiri. Pada baris paling bawah muncul tulisan dengan tinta basah: Mira, kamar 7, satu malam.
Telepon meja berdering. Nomor kamar yang muncul pada layar adalah 07.
Ia tidak mengangkatnya. Dering berhenti, lalu suara perempuan terdengar tepat di belakang kursinya.
“Kalau kuncinya tidak ada di luar, berarti Mas yang membawanya.”
Arga berbalik. Ruang tunggu kosong. Namun, salah satu kunci kuningan di gantungan telah berubah. Angka enam pada keping logamnya kini menjadi tujuh.
Pintu yang Tidak Seharusnya Ada
Dari lantai atas terdengar langkah menyeret. Arga ingin keluar, tetapi pintu depan tidak dapat dibuka. Ia mencoba menghubungi Pak Seno. Sambungan tersambung, tetapi suara pemilik penginapan terdengar jauh dan terputus-putus.
“Jangan naik. Apa pun yang dia katakan, jangan kembalikan kuncinya.”
Kalimat itu terlambat. Sebuah tangan pucat telah muncul dari sela pegangan tangga, telapaknya menghadap ke atas seperti menunggu sesuatu. Arga menggenggam kunci bernomor tujuh dan mundur. Tangan itu perlahan menarik diri, lalu ketukan berpindah ke pintu depan.
Tiga ketukan. Diam. Tiga ketukan lagi.
Arga memasukkan kunci ke dalam laci dan menindihnya dengan buku tamu. Seketika listrik padam. Dalam gelap, suara perempuan itu berbisik dari sisi meja, “Saya hanya ingin pulang.”
Tamu yang Tidak Pernah Keluar
Menjelang subuh, pintu depan akhirnya terbuka. Pak Seno datang dan menemukan Arga duduk di lantai sambil memeluk buku tamu. Kunci nomor tujuh sudah tidak ada. Tulisan nama Mira juga telah menghilang.
Pak Seno kemudian mengakui bahwa dahulu penginapan memiliki tujuh kamar. Bertahun-tahun sebelumnya, seorang tamu bernama Mira menginap sendirian. Kebakaran kecil terjadi di ujung koridor. Pintu kamarnya macet, sementara kuncinya tergantung di meja resepsionis. Setelah kejadian itu, kamar ditutup dan nomornya dihapus dari denah.
Arga berhenti bekerja pagi itu. Sebelum pergi, ia melihat kamera pengawas untuk terakhir kali. Koridor kembali memiliki enam pintu. Akan tetapi, di balik meja resepsionis pada rekaman malam tadi, tampak seorang perempuan berdiri sepanjang waktu—tepat di belakang kursinya.
Mengapa Cerita Horor Pendek Ini Terasa Menegangkan?
Cerita menggunakan aturan sederhana, ruang terbatas, dan ancaman yang semakin dekat. Informasi tentang kamar ketujuh diberikan sedikit demi sedikit sehingga pembaca memiliki alasan untuk terus menebak. Jika Anda ingin memahami pembeda antara fiksi dan kesaksian, baca panduan kisah nyata dan cerita fiksi di OMA55.
FAQ
Apakah Ketukan dari Kamar Nomor Tujuh merupakan kisah nyata?
Tidak. Cerita ini adalah karya fiksi orisinal yang dibuat untuk hiburan.
Berapa lama waktu membaca cerita ini?
Mayoritas pembaca dapat menyelesaikannya dalam beberapa menit, tergantung kecepatan membaca.
Di mana membaca cerita horor pendek lainnya?
Kunjungi kategori Cerita Horor OMA55 untuk menemukan cerita dan panduan baru.